Please wait...

BERITA

Sekilas Perseroan

Reksadana pendapatan tetap jawara di September

Wednesday, 02 October 2019


JAKARTA - Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang kembali turun di bulan September jadi pendorong kinerja reksadana pendapatan tetap unggul di bulan lalu.


Berdasarkan data Infovesta Utama, rata-rata kinerja reksadana pendapatan tetap yang tercermin dalam Infovesta Fixed Income Fund Index 90 naik 0,79% secara bulanan. Sedangkan sejak awal tahun rata-rata kinerja reksadana pendapatan tetap tumbuh 8,29%.


Kinerja tersebut mengungguli rata-rata kinerja reksadana pasar uang yang tercermin dalam Infovesta Money Market Fund Index 90 yang tumbuh 0,48% secara bulanan dan tumbuh 4,37% secara tahunan.


Begitu pun rata-rata kinerja reksadana campuran dan reksadana saham juga berada di bawah rata-rata kinerja reksadana pendapatan tetap.


Head of Research Invofesta Wawan Hendrayana mengatakan, reksadana pendapatan tetap berkinerja paling tinggi karena tersokong penurunan suku bunga yang kembali terjadi di bulan lalu.


Suku bunga yang turun ke 5,25% membuat yield obligasi turun dan harga obligasi naik. "Kinerja reksadana pendapatan tetap lebih disokong dari naiknya harga obligasi," kata Wawan, Selasa (1/10).


Selain itu, di bulan lalu perkembangan perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China juga cenderung mereda dan menjadi katalis positif bagi reksadana yang memiliki aset dasar obligasi.


Dengan inflasi tahunan hingga September yang masih di 2,2%, Wawan memproyeksikan ruang untuk suku bunga turun masih terbuka lebar dan menjadi kesempatan emas bagi kinerja reksadana pendapatan tetap ke depan.


Dengan begitu, Wawan memproyeksikan hingga akhir tahun kinerja reksadana pendapatan tetap bisa tetap unggul dari pada kinerja reksadana jenis lain. "Minimal kinerja rata-rata reksadana pendapatan tetap bisa sangat mungkin ke 10%," kata Wawan.

 

 

Manfaatkan obligasi pemerintah

Di tengah tren penurunan suku bunga, Wawan mengatakan reksadana pendapatan tetap yang memiliki kinerja tinggi adalah reksadana yang banyak memiliki portofolio di surat utang negara (SUN).

 

Menurut Wawan SUN cenderung lebih likuid dibanding obligasi korporasi dan mudah mengalami kenaikan harga.  "SUN memiliki capital gain yang lebih besar," kata Wawan.

 

Solahudin, Direktur Investasi PNM Investment Management juga mengandalkan obligasi pemerintah bertenor panjang di tengah perekonomian ke depan masih diwarnai oleh tren penurunan suku bunga.

 

Sejak Februari, Solahudin sudah meracik portofolio reksadananya pada obligasi pemerintah dengan tenor panjang karena melihat tren suku bunga akan turun. Agar kinerja optimal, Solahudin juga memanfaatkan fluktuasi pasar sebagai peluang untuk trading.

 

Tercatat, reksadana PNM Dana Sejahtera sejak awal tahun catatkan kinerja tertinggi dengan tumbuh 34,48%. Solahudin memproyeksikan obligasi pemerintah berpeluang akan mencatatkan kenaikan kinerja hingga 3% di kuartal III-2019.

"Iklim suku bunga rendah, harga obligasi pemerintah relatif akan menguat," kata Solahudin.

 

Sumber : Kontan.co.id

https://investasi.kontan.co.id/news/reksadana-pendapatan-tetap-jawara-di-september