Morning Brief
Penyaluran kredit UMKM masih lemah meski likuiditas melimpah, menunjukkan kendala utama ada pada tingginya risiko dan belum efektifnya transmisi ke sektor riil. Per Februari 2026, kredit UMKM terkontraksi -0,6% (yoy), dipicu penurunan kredit modal kerja sebesar -4,9% (yoy), sementara kredit investasi masih tumbuh 9,6% (yoy). Perbankan cenderung melakukan flight to quality dengan mengalihkan pembiayaan ke korporasi tumbuh 13,8% (yoy) akibat tingginya risiko UMKM, keterbatasan agunan, dan lemahnya informasi keuangan. Dari sisi permintaan, pelaku UMKM juga masih wait and see di tengah tekanan arus kas dan ketidakpastian. Ke depan, diperlukan penguatan mitigasi risiko, penjaminan kredit, subsidi bunga, serta stimulus permintaan untuk mendorong pemulihan kredit UMKM. (kontan.co.id)